• Mori Manjusri’s Archives

  • Mori Manjusri’s Categories

  • Cute Graphics, Cute Quotes, Cute Images Cute Graphics, Cute Quotes, Cute Images
  • Mori Manjusri’s Posting

  • Mori Manjusri’s Event

    Jadwal Pertandingan FC Barcelona musim 2015/2016June 15th, 2015
    Untuk mengetahui jadwal pertandingan FC Barcelona musim 2015/2016, kunjungi http://www.fcbarcelona.co.id/football/first-team/calendar
  • Cute Graphics, Cute Quotes, Cute Images
  • Mori’s Manjusri Top Posts & Pages

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 69 other followers

  • Mori Manjusri's Diary

  • Mori Manjusri’s Community

Jenis-jenis Kalimat


       Jika dilihat dari strukturnya, kalimat bahasa Indonesia dapat berupa kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat majemuk dapat dibagi dua: kalimat majemuk setara, kalimat mejemuk tidak setara, dan kalimat majemuk campuran. Gagasan yang tunggal dinyatakan dalam kalimat tunggal; gagasan yang bersegi-segi diungkapkan dengan kalimat majemuk.  Selain dilihat dari strukturnya, jenis kalimat juga bisa dibedakan sesuai dengan bentuk gaya penyampaiannya. Kalimat yang sudah benar strukturnya akan lebih menarik pembacanya jika gaya penyampaiannya sesuai konteks yang ada.

Menurut gaya penyampaiannya, kalimat majemuk dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu kalimat yang melepas (induk-anak), kalimat yang klimaks (anak-induk), dan kalimat yang berimbang (setara atau campuran). Lalu jika dilihat menurut fungsinya, jenis kalimat dapat dirinci menjadi kalimat pernyataan, kalimat pertanyaan, kalimat perintah, dan kalimat seruan. Semua jeis kalimat itu dapat disajikan dalam bentuk positif dan negatif. Dalam bahasa lisan, intonasi yang khas menjelaskan kapan kita berhadapan dengan salah satu jenis itu. Dalam bahasa tulisan, perbedaannya dijelaskan oleh bermacam-macam tanda baca.  

 

1.         Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas 2 unsur inti pembentuk kalimat ( SP )(SPOK).

Contoh :

Ayah   Merokok

S               P

Adik     Minum    Susu

S               P         O

Ibu        Menyimpan     Uang    di    Laci

S                 P              O              K

 

2.      Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat-kalimat yang mengandung 2 pola kalimat atau lebih.

Contoh : ”Susi menulis surat dan membaca koran.“

·       Majemuk setara

·       Majemuk tidak setara (bertingkat)

a.       Kalimat majemuk setara: ”Sisca anak baik dan pintar.“

”bapak minum teh atau makan nasi.“

b.      Setara perlawanan: ”Dia sangat rajin tetapi adiknya malas.“

c.       Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terdiri dari perluasan kalimat tunggal sehingga membuat kalimat baru.

Contoh: ”Mereka sudah mengetahui hal itu, bahwa saya yang mengambilnya.“

Yang bergaris bawah adalah anak kalimat.

 

3.      Kalimat yang Melepas

Jika kalimat itu disusun dengan diawali unsur utama, yaitu induk kalimat dan diikuti oleh unsur tembahan, yaitu anak kalimat, gaya penyajian kalimat itu disebut melepas. Unsur anak kalimat ini seakan-akan dilepaskan saja oleh penulisnya dan kalaupun unsur ini tidak diucapkan, kalimat itu sudah bermakna lengkap.

Misalnya:

a.    Saya akan dibelikan vespa oleh ayah jika saya lulus ujian sarjana.

b.    Semua warga negara harus menaati segala perundang-undangan yang berlaku agar kehidupan di negeri ini berjalan dengan tertib dan aman.

 

4.      Kalimat yang Klimaks

Jika kalimat itu disusun dengan diawali oleh anak kalimat dan diikuti oleh induk kalimat, gaya penyajian kalimat itu disebut berklimaks. Pembaca belum dapat memahami kalimat tersebut jika baru membaca anak kalimatnya. Pembaca akan memahami makna kalimat itu setelah membaca induk kalimatnya. Sebelum kalimat itu selesai, terasa bahwa ada sesuatu yang masih ditunggu, yaitu induk kalimat. Oleh karena itu, penyajian kalimat yang konstruksinya anak-induk terasa berklimaks, dan terasa membentuk ketegangan.

Misalnya:

a.    Karena sulit kendaraan, ia datang terlambat ke kantornya.

b.    Setelah 1.138 hari disekap dalam sebuah ruangan akhirnya tiga sandera warga negara Prancis itu dibebaskan juga.

 

5.      Kalimat yang Berimbang

Jika kalimat itu disusun dalam bentuk majemuk setara atau majemuk campuran, gaya penyajian kalimat itu disebut berimbang karena strukturnya memperlihatkan kesejajaran yang sejalan dan dituangkan ke dalam bangun kalimat yang bersimetri.

Misalnya:

a.       Bursa saham tampaknya semakin bergairah, investor asing dan domestik berlomba melakukan transaksi, dan IHSG naik tajam.

b.      Jika stabilitas nasional mantap, masyarakat dapat bekerja dengan tenang dan dapat beribadat dengan leluasa.

 

Ketiga gaya penyampaian tadi terdapat pada kalimat majemuk. Adapun kalimat pada umumnya dapat divariasikan menjadi kalimat yang panjang-pendek, aktif-pasif, inversi, dan pengedepanan keterangan.

 

6.      Kalimat Pernyataan (Deklaratif)

Kalimat pernyataan dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu dengan lengkap pada waktu ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan berbahasanya. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca titik).

Misalnya:

Positif

a.       Presiden Gus Dur mengadakan kunjungan ke luar negeri.

b.      Indonesia menggunakan sistem anggaran yang berimbang.

 

 

Negatif

a.         Tidak semua bank memperoleh kredit lunak.

b.        Dalam pameran tersebut para pengunjung tidak mendapat informasi yang memuaskan tentang bisnis komdominium di kotakota besar.

 

7.      Kalimat Pertanyaan (Interogatif)

Kalimat pertanyaan dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi (jawaban) yang diharapkan. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca tanda tanya). Pertanyaan sering menggunakan kata tanya seperti bagaimana, di mana, mengapa, berapa, dan kapan.

 

Misalnya:

Positif

a.       Kapan Saudara berangkat ke Singapura?

b.      Mengapa dia gagal dalam ujian?

Negatif

a.       Mengapa gedung ini dibangun tidak sesuai dengan bestek yang disepakati?

b.      Mengapa tidak semua fakir miskin di negara kita dapat dijamin penghidupannya oleh nefara?

 

8.      Kalimat Perintah dan Permintaan (Imperatif)

Kalimat perintah dipakai jika penutur ingin “menyuruh” atau “melarang” orang berbuat sesuatu. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca titik atau tanda seru).

Misalnya:

Positif

a.         Maukah kamu disuruh mengantarkan buku ini ke Pak Sahluddin!

b.        Tolong buatlah dahulu rencana pembiayaannya.

Negatif

a.         Sebaiknya kita tidak berpikiran sempit tentang hak asasi manusia.

b.        Janganlah kita enggan mengeluarkan zakat kita jika sudah tergolong orang mampu.

 

9.        Kalimat Seruan

Kalimat seruan dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan “yang kuat” atau yang mendadak. (Biasanya, ditandai oleh menaiknya suara pada kalimat lisan dan dipakainya tanda seru atau tanda titik pada kalimat tulis).

Misalnya:

Positif

a.       Bukan main, cantiknya.

b.      Nah, ini dia yang kita tunggu.

Negatif

a.       Aduh, pekerjaan rumah saya tidak terbawa.

b.      Wah, target KONI di Asian Games XIII tahun 1998 di Bangkok tidak tercapai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pety Nopiyanti

a student of Muhammaadiyah University

Buat Video Tahunanmu Sendiri!

Kami mendukung anda untuk maju.

sineasmudaindonesia

A topnotch WordPress.com site

%d bloggers like this: